Dalam jangkauan

kurniawangunadi:

Kita tidak akan mampu menyelamatkan semua orang, apalagi membahagiakan seluruhnya. Cukup selamatkan dan bahagiakan yang bisa kamu jangkau, meski yang bisa kamu jangkau hanyalah dirimu sendiri.

Atau jangan-jangan, kamu bahkan tidak bisa menjangkau dirimu sendiri? Karena kamu terasa asing bagi dirimu sendiri, tidak tahu apa yang jadi tujuan, terlalu lama hilang arah?

Kurniawan Gunadi

Cerpen : Pertanyaan Kenapa

kurniawangunadi:

Aku belum juga menikah bukan karena aku gak mau, bukan pula karena gak ada yang mau. Aku masih harus bekerja dan fokus sama keluargaku, utang keluargaku nggak sedikit. Bahkan aku bertahan di pekerjaan yang membuatku begitu tertekan, aku betah-betahin karena aku butuh uangnya. Keluargaku tidak siap untuk masuk ke dalam fase baru, melihat anaknya menikah meskipun ibu seringkali bertanya dan menyuruh-nyuruhku untuk segera; malu sama tetangga, katanya. Aku belum mau menikah sampai aku merasa latar belakangku sudah kubenahi.

Aku belum punya anak juga bukan karena aku menunda, aku ingin sekali. Tapi kan anak tidak bisa dibeli di supermarket, yang kalau punya uang bisa tinggal belikan saja. Aku dan pasangan sudah bolak balik rumah sakit untuk menyembuhnya penyakitnya, ada sakit yang tak bisa aku jelaskan satu per satu, toh kalian juga nggak akan nyumbang buat membiayainya, cuma kepo aja. Apalagi, kalau tahu, nanti kalian malah sibuk menyuruhku untuk menceraikannya dan menikah dengan yang lain saja, yang lebih sehat. Kupahami, memang di otakmu pernikahan hanya dipikir untung rugi aja, bukan hubungan saling mengasihi dan menyayangi. 

Aku bekerja di sini itu bukan karena aku gak diterima di mana-mana. Aku ingin menjaga bapakku yang tinggal sendiri. Meski katamu sayang ijazahnya, sayang udah disekolahin tinggi-tinggi ujung-ujungnya jadi guru PAUD. Gaji nggak seberapa, rugi sekolahnya udah bayar mahal-mahal. Kalian aja yang gak tahu kalau sebelum aku ambil keputusan jadi guru di desa ini, aku sudah diterima di perusahaan multinasional. Gak jadi kuambil karena aku kasihan sama bapakku kalau kutinggal sendiri. Nanti kalau aku tinggal bapakku, katanya aku kurang ajar dan gak kasihan sama orang tua karena ditinggal sendirian di rumah, kalau sakit gimana? kalau mau mati, gimana?

Aku kayak gini tu bukan sepenuhnya hal yang kuinginkan, kalau kubunuh rasa peduli dan rasa cinta, pasti aku abaikan semuanya, kutinggalkan semuanya dan aku akan kejar apa yang aku mau mau gimanapun caranya. Tapi, gara-gara kalian sering tanya kenapa, yang tadinya aku sudah bulat dengan segala keputusanku, kini terkikis juga rasa syukurku. 

Kalau nanti di pengadilan Tuhan aku ditanya kenapa rasa syukurku sedikit, kutuntut kalian satu persatu karena telah merusak rasa syukurku tersebut karena terlalu sering bertanya kenapa padahal aku tak pernah meminta pendapatnya.

©kurniawangunadi

coba kamu tambahin sendiri

Jaga lisan dan jari

Pada Umur Berapa?

kurniawangunadi:

Pada umur berapa kamu mulai merasa menjadi orang yang lebih tenang? Kalau ada sesuatu yang memang tak bisa kamu dapatkan, ya sudah, memang bukan takdirnya. Bersedih, sudah setelahnya, mengusahakan yang lain.
Jika orang lain berbuat lalai, tidak langsung meledak-ledak marah, tapi berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi. Jika mengemudi, lebih penting selamat sampai tujuan daripada terpacu untuk cepat sampai.

Pada umur berapa kamu merasa bahwa ruang privasi itu adalah hal yang sangat mewah. Dan kamu mulai sadar bahwa dalam hidup ini, mengejar mimpi memang penting, tapi memiliki teman baik, memiliki kehidupan yang tenang, pekerjaan yang nyaman, itu jauh lebih menyenangkan. 

Pada umur berapa kamu mulai sadar bahwa kamu telah berubah, sepenuhnya berubah. 

©kurniawangunadi

Di tahun kemarin, setelah memutuskan resign dari kantor lama. Alhamdulillah, keputusanku membawa berkah.

Nasihat

kurniawangunadi:

Kamu hanya bisa mengendalikan dirimu, tidak bisa mengendalikan orang lain. Kamu hanya bisa mengendalikan isi doamu, bukan hasilnya. Tidak pula bisa mengendalikan isi pikiran, cara pandang, dan perbuatan orang lain kepadamu.

Tapi kamu bisa mengendalikan dirimu. Kamu bisa mengendalikan pilihan dan keputusanmu. Nggak ada yang mudah. Semuanya sulit. Sulit untuk mengendalikan dirimu sendiri, sulit juga jika kamu ingin mengendalikan semua hal. Mana yang akan kamu pilih?

Tapi, tahukah kamu rahasia kecil? Kalau kamu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri, maka hidupmu akan dikenalikan oleh keadaan.

©kurniawangunadi

Jangan memilih sesuatu yang tak ingin kamu miliki seumur hidup

kurniawangunadi:

Kalau kamu sudah sadar bahwa kamu tidak yakin, jangan diambil. Kalau kamu sadar bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan untuk bisa diterima, jangan diterima. Kalau kamu sadar bahwa ada hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kamu pegang, apalagi itu, tolak!

Jangan terlalu mudah berkompromi pada dirimu sendiri, pada hal-hal yang memang ingin kamu genggam seumur hidupmu. Jangan terlalu berbaik hati, memilih karena kasihan. Jangan terlalu polos, menyangka bahwa segala sesuatu itu nanti bisa berubah. Tapi, kamu tak bisa mengendalikan sama sekali berubahnya ke arah mana, semakin baik, atau semakin rusak.

Kalau kamu sadar bahwa sesuatu yang ingin kamu sertakan dalam hidupmu adalah sesuatu yang bernilai, jangan pernah kamu menurunkan nilainya. Kalau kamu sadar bahwa kamu seberharga itu, jangan pernah merendahkan harga dirimu. 

Jangan memilih karena kamu tidak punya pilihan. Buatlah pilihan itu.

©kurniawangunadi

Tutorial Jatuh Cinta

kurniawangunadi:

Jatuh cintalah pada seseorang yang perasaan cintanya lebih besar darimu. Karena ia akan membuatmu menjadi sangat berharga. Bersedia untuk melakukan hal-hal kecil untukmu, menggendong anakmu saat kelelahan, membiarkanmu tetidur dan ia membereskan rumah, membelamu jika ada orang lain yang menyerangmu, menyediakan makanan-makanan kecil saat kamu malas memasak, dan tidak marah-marah saat kamu menghabiskan uang yang digunakan untuk kebutuhan kalian berdua.

Jatuh cintalah pada seseorang yang memiliki cara berpikir yang baik, yang luas, yang terbuka. Karena di dalam pikirannya nanti kamu akan tinggal. Karena cara berpikirnya itulah yang akan kamu hadapi selama kalian bersama. Tentu merepotkan tinggal bersama orang yang ternyata cara berpikirnya mudah menerima hoax, tidak bisa mencerna informasi dengan baik, tidak bisa mengambil keputusan dengan bijak, tidak ada keinginan untuk berkembang, tidak punya pendirian yang kuat. Lelah sekali tinggal di pikiran yang seperti itu, bukan?

Jatuh cintalah pada seseorang yang mudah diajak berbicara. Kamu tak perlu merasa takut untuk mengutarakan segala isi hatimu, mengutarakan segala penatmu, mengajaknya berdiskusi untuk keluargamu. Tentu tidak enak jika selama bersama, kalian tidak bisa membicarakan hal-hal penting untuk keluargamu. Bahkan, untuk sekedar mengatakan bahwa kamu lelah dan memintanya untuk mengasuh anak sebentar saja, kamu takut. Tak leluasa untuk berbicara. Padahal, memiliki teman bicara seumur hidup yang nyaman itu benar-benar anugrah yang tak ternilai.

Kalau kamu ingin jatuh cinta, tutup sejenak matamu dari hal-hal yang kamu lihat darinya. Rasakan dari hatimu, berpikirkan sejauh mungkin. Seberapa bisa kamu hidup dengan sosok sepertinya. Karena apa yang kamu lihat dari matamu, seperti kecantikan/ketampanan itu akan usang dimakan usia, harta bisa hilang, jabatan bisa lepas. 

Kalau nanti kamu jatuh cinta, kamu tak lagi takut jatuh ditempat yang menyakitkan karena kamu bisa memilih di tempat seperti apa cintamu jatuh. Hati-hatilah memilihnya. Kalaupun harus menempuh jalan yang panjang dan berliku, tidak apa-apa. Kalau harus menempuh waktu yang lama, tidak apa-apa. Tidak apa-apa.

©kurniawangunadi

You can love someone and still choose to say goodbye to them.

You can miss a person every day, and still be glad that they are no longer in your life.

- Tara Westover, Educated

Am I Left Behind?

yasirmukhtar:

Ada sebuah penyakit, saya tidak tahu nama resminya. Tapi kita namakan saja “Sindrom Ketinggalan Balapan”.

Indikasinya begini:

• Kamu sedang belajar atau meniti karir, tapi have no idea kamu mau jadi seperti apa di ujungnya nanti.

• Kamu ngeliat figur-figur hebat di bidang kamu. Di satu sisi kamu jadi bersemangat, di sisi lain kamu jadi overwhelmed karena ngerasa banyak banget hal yang mesti kamu pelajari untuk berada pada posisi seperti mereka.

• Efek lainnya juga, mungkin kamu jadi ngerasa ketinggalan, atau bahkan ngerasa udah salah jalan selama ini.

• Lalu kamu ngerasa tahun-tahun yang sudah kamu lalui kamu habiskan begitu saja, agak sia-sia. Kesal dan menyesal rasanya.

• Terlebih, kalau figur yang kamu lihat adalah teman sebaya kamu. Ada yang udah sampai di sana, ada yang udah jadi ini, ada yang sudah menghasilkan itu. Rasanya pengen mencet tombol restart hidup–andai saja ada.


Apa yang mesti dipikirkan-dilakukan dalam kondisi begitu?

Penanganan pertama: “Ingat, hakikat yang paling hakiki tentang hidup, bahwa kita semua akan mati, lalu semua cita-cita, pencapaian, karir–betapapun cemerlangnya, akan berakhir. Tutup buku. Apa yang penting adalah amal yang kita niatkan, persembahkan, untuk Sang Pencipta.

Penganan kedua: “Ingat, semua orang berproses. Semua yang ada di puncak pernah mendaki dari bawah. Jika kita masih di bawah, santai aja. Panik tidak akan membuat kita tiba-tiba berada di puncak. Tenang. Terus bejalan, selangkah demi selangkah. Lakukan sekecil apapun upaya kamu untuk menjadi versi lebih baik dari diri kamu, setiap hari, setiap waktu.”

Penanganan ketiga: “Ingat, hidup bukan balapan. Yang lebih dahulu menjadi hebat tidak membuatnya superior secara permanen dibanding kita; suatu saat kita bisa melampauinya. Terlebih, yang di mata kita sudah hebat, barangkali payah dan berantakan dalam sekian aspek–yang mungkin kita baik di sana. Kasih sayang keluarga, pertemanan yang berkualitas, ibadah yang khusyu’–banyak sekali hal yang matters dalam hidup yang tidak perlu syarat untuk memilikinya.

Oke, sementara segitu dulu.

Tarik nafaaas, hembuskan. Ayo kita jalan lagi, selangkah demi selangkah.

It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.

Confucius

Bismillah.

Cerpen : Orang Itu

kurniawangunadi:

Tahun berlalu dan jarak di antara kita yang angkanya kian banyak. Kita berpisah karena memang harus begitu jalannya. Saat itu, kita saling mengenal karena keadaan yang mempertemukan, kita semakin kenal karena bertahun-tahun kita berada di tempat yang sama. 

Persinggungan hidup kita bagai aliran sungai yang beranak cabang, mau sejauh apapun kita berbelok, akhirnya kita akan berujung di muara yang sama, lautan. Sampai akhirnya kita harus berpisah menjadi hujan yang jatuh di tempat yang berbeda.

Dulu aku mengenalmu sekenal itu, mulai dari warna suaramu, langkah kakimu, bahkan aku kenal bagaimana caramu bersedih dan bahagia. Aku mengenal rasa takut dan khawatirmu yang kemudian membuatku belajar untuk menjadi berani agar bisa berteman dengannya. Menjadikanmu sebagai alasan yang kubuat-buat, membuat diriku memberanikan diri untuk mengenal dunia yang lebih luas dengan harapan bisa mempersiapkannya untukmu suatu hari nanti.

Tapi kita berpisah. Karena memang harus begitu jalannya. Saat aku dan kamu sibuk dengan dunianya masing-masing. Saat kita sadar bahwa di masa itu, ada banyak mimpi kita yang perlu untuk kita hidupi dan aku memendam kekhawatiranku saat kita berpisah, entah kamu. 

Aku pun mengucapkan selamat berjuang untukmu. Dan berucap lirih, semoga bertemu di lain waktu. Dan saat nanti kita bertemu, aku masih orang itu. Orang yang sama, yang pernah kamu kenal. Dan aku tak ingin mengubah diriku yang kamu kenal.

Besar harapanku, saat nanti kita bertemu. Kita tidak asing satu sama lain. Aku masih orang itu. Yang dulu, hampir setiap pagi menyamakan langkah kakinya denganmu saat berjalan ke sekolah. Yang menghitung waktu untuk berangkat tepat waktu setiap pagi agar berpapasan. Yang selalu membawa alat tulis lebih dari satu agar saat kamu perlu, aku selalu bisa meminjamkannya untukmu. Dan banyak hal lainnya yang tak kusangka sudah bertahun lalu terjadi.

Aku masih orang itu. Yang jika kamu mengenalnya dulu, kamu takkan susah payah mengenalinya hari ini. Karena aku masih sama, untukmu.

©kurniawangunadi 

Ada pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”

Benar, tapi belum tentu semua orang tujuannya sama, mau ke Roma. Bisa aja cuma mau ke… Ciputat?

Gak semua tujuan orang lain tuh sama tujuannya kaya lu. Jadi, sebisa mungkin ga usahlah maksain jalan hidup yang lu jalanin buat dijalanin di hidup orang lain. Emang lu tau kalo tujuannya sama? Emang lu yakin rintangannya sama?

Yang tujuannya sama aja, jalannya ada banyak. Apalagi yang beda, kan?

Kalo tujuannya sama; bahagia. Yaudah.

Tiap orang udah punya jalan masing-masing. Inget, banyak jalan menuju Roma. Tiap orang punya jalannya masing-masing buat bahagia.

Ada yang bahagia kalo bisa ngumpul keluarga, ya silakan.

Ada yang bahagia, kalo punya pasangan dan anak, silakan.

Ada yang bahagia, kalo bisa rebahan tanpa diganggu, ya monggo.

Bahagia lah sesuai kemauan dan kemampuan. Selama bahagiamu gak mengusik kebahagiaan orang lain, ya silakan.

Akhir kata dari Wira Nagara; Berbiasalah berbahagialah.